#1 Jakarta Oh..Jakarta..

Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh...

Well after a long time that I can called “mati suri”...

Terlalu sulit untuk kembali menulis, bahkan ketika sejuta alasan berusaha dijadikan pendorong semangat akan selalu ada pula semiliar alasan kemalasan yang bakal bisa jadi pembenaran. Well after all...whatever lah.

Disini, hari ini...lebaran yang dinanti. Lah malah nyanyi hahaha...

Apa yang mau saya katakan adalah...disini saya mau memulai kembali segala hal yang pernah terlupa sejenak oleh kebisingan dan segala kepentingan hidup. 
Mari kita menilik hidup saya selama beberapa bulan belakangan ini (macam orang pentinga saja..)
As we know...saya hijrah ke Jakarta sejak Januari (awal cerita bakal merintis karir sebagai calon manager). Yet ibukota terlalu kejam buat pemula, a newbie, or let us just called “si pungguk cunguk yang terlalu muluk dan lugu memahami kehidupan” (haha...kepanjangan yak..). Finally saya cuma bisa bertahan tiga bulan mengecap posisi Management Trainee yang di tabe-tabe ki staff kantor kalo lewat, cuma tiga bulan rasakan gaji di atas normal (halaaah...), dan cuma tiga bulan saya bisa berkoar dalam hati kalau saya bakal tempati salah satu apartemen di MOI itu hanya dalam beberapa tahun ke depan. Selanjutnya, karena jiwa yang masih muda dan terlalu labil... got into big problem with the HRD saya pun terdepak dari posisi tersebut. Disuruh untuk menandatangani surat resign without any warning (ato kalo biasa orang bilang SP) before. 

Dan tadaaaaaa.......

Saya pulang ke kosan dengan langkah bagai kaki lumpuh layuh disertai backsound-nya Sheila on Seven, “aku pulaaaaaaang......” sama lagunya Daniel Powter yang Bad Day, “because today is a bad daay....”. Pikiran benar-benar kosong, empty, blank, yepp!! Apami mau kubilang sama bapak di rumah yang sudah kasih keliling cerita kalo anaknya bakal jadi manager? Bemana mi nanti mamakku yang ku janji mau ku perbaiki atap loteng rumahnya di Talamangape? 

Huaaaaaaah...setreeeeeeeeees...

Saat itu benar-benar tidak ada ku takuti, manna preman ada gangguka. Pokoknya senggol bacok. Jalanan dari Slipi ke Priuk seperti ji kurasa hampa (padahal biasanya lussak maka na pakamma macet). Terlihat di jalan, bendera PERINDO berkibar-kibar mengajak pemuda dan para generasi muda bangsa untuk gabung di hari deklarasinya. Hhhh...padahal rencana saya juga bakal seperti itu, jadi kaya, beli saham di perusahaan media, bentuk ormas (atas nama ji dulu), kemudian berevolusi jadi partai, terus jadi presiden. Oopuaang....kenapa na begini kamma nasibku kamaseh. Tiga bulan berasa kayaaah...naik taksi kemana-mana. But then here we go again...pulang ke kos tanpa ongkos pesangon dari kantor, ta’gantung-gantung berayun di dalam Transjakarta sambil desak-desakan seperti ikan sarden. Mau ki menangis tidak enak diliat orang di depanta.


Sampai di kos. Cuma bisa menganga..ato bahasa gaulnya melongo..ato lebih kerennya...nge blank, otak nge hang, pikiran melayang, pokoknya lebih parah dari nge-fly dah (aaseeekk..). Tiga hari berturut-turut tidak mandi, susah boker, dan cuma minum air putih. Mata sembab, nafas bau (jelaaas...tidak pernah kena sikat gigi tiga hari), dan ketiak sudah macam bau sakkuluknya Daeng Becak yang berpanas-panasan mencari lurang (baca : penumpang).


Makin hari uang makin menipis, sementara selalu harus mengaku sama bapak dan mamak di kampung that Im OK, Im alrite...everything is fine. Akhirnya berusaha bergerak maju ke depan (baca : move on). Jobsdb, jobsid, bursa karir UGM, Lina, kembali ku telusuri, semua laman pencari kerja yang dulu-dulu ku tai ngongoki akhirnya kubuka satu per satu “lagi”. Bisa kubayangkan pasti bilangki admin website nya “ iiih...kodong na cari tonja ki pade...kenapa ko ayaaa...bangkrut yaaak?! Hahahhahahaaaaaa......!!! “. Ba...nassa mi karena dulu ku unsubscribe  semua itu email notifikasinya yang bikin full inbox saja. Tapi sekarang semua email notif-nya macam insulin buat para penderita diabetes, macam inhaler buat para penderita asma, macam ganja bagi para junkie, dan macam sebatang rokok buat para bapak dan om-om kalo habis makan. Yeah it does important to me!! Urgent!! Kubuka, ku apply, ku tunggu, dan belum ada jawaban.


Handphone yang dulu silent dan getar, sekarang jadi full volume, nada dering Remix, tambah getar yang tidak santai. Pokoknya yang kalau tidak di angkat bisa bikin malu karena sampe na dengarki tetangga kamar kos. Solat dhuha kembali digiatkan, tahajud masih belumpi (nda tauk kenapa susah sekali), dan doa panjang terus dipanjatkan. Beberapa bulan berlalu...tabungan indeed...makin habis. Tapi kemudian Alhamdulillah ada panggilan dari beberapa interviewer yang saya apply perusahaannya. Beberapa ada yang penipuan, dan adapula yang sudah ku datangi untuk wawancara. Bukan Cuma para caleg, yang menunggu hasil pemilu lalu kemudian mereka dumbak-dumbak. Saya juga demikian adanya. Perasaan yang sama, sami mawon kalo kata mbah buyut. Semua campur aduk. Dan hasilnya...nihil. Saya gagal di semua wawancara. Entah ekspektasi mereka yang ingin lebih dari saya. Atau saya yang terlalu bagus buat mereka. I dunno...

Minggu selanjutnya, saya berkemas ingin pulang kampung. Sebelum uang saya benar-benar habis. Saya harus pulang dan menyampaikan pada orangtua. That Im broke. Bangkrut. Bukan lagi calon manager. Di atas pesawat tidak henti kurangkai kata, menarik nafas menambah keberanian, untuk melihat kekecewaan mereka. Gosh...how could I did this... kesenangan terakhir yang mampu bertahan adalah gelar cum laude. Namun, kini saya pulang dengan titel...pengangguran.


Well, begitulah sebagian besar ceritanya. Riwayat Si Aya anak Maros berjuang pada kerasnya ibukota (hehe..). Hampir dua minggu di kampung halaman, sampai suatu sore...ada pesan singkat dari perusahaan yang dulu menolak saya...untuk kembali mengajak saya untuk menjadi bagian...dari perusahaannya. Dan itulah yang kembali memulai babak baru kedua, kehidupan saya di Jakarta.

 Later...



DRAMA QUEEN #2

Assalamu alaikum...

Long time no see ya, been a while to finding some pattern about my whole new life nih....(cieeh...keren bahasa ku kan).

Jadi, sekarang saya sudah menjadi buruh eh bukan... maksud saya jadi karyawan swasta di sebuah perusahaan swasta tapi tidak dengan gaji swasta (haha..silakan ber-analogi kengkawan). Jadi saya sudah menjadi bagian dari budak manusia corporate, yang lazimnya disebut dunia modal....dunia kapitalis. Tsaaaah...kenapa jadi bahas beginianG yak!

Okeh..lemme continue my drama queen life.

Masih bicara tentang perjalanan wisata (bukaaan... lebih tepatnya perjalanan spiritual..hahaha..bukan juga ding!). Saat di Jogja pas mendaftar jadi mahasiswa S2 UGM, setelah dari rumah nenek saya yang seharusnya jadi tempat istirahat untuk menyiapkan materi wawancara, saya disana justru didaulat untuk jadi " PAJAGA GA'DE !!!!" Sekali lagi saya sebut teman-teman PAJAGA GA"DEEE....

Ckckck.... kukira tommi pas saya datang bakal di servis baik-baik sama nenekku, berhubung baru ketemu sama cucunya yang lama tidak jumpa plus bila ditilik lebih lanjut saya ini berangkat dari kawasan CELEBES sana menuju BATAVIA seorang diri, bayangkan jika saya ada kenapa-kenapa di jalan coba?? Betapa besar pengorbananku yang sepantasnya dapat pijitan, traktiran, dan jalan-jalan pas sampai Jakarta. Justru malah disuruh jadi tukang jaga warung kelontong nenek.

Tapi tak apalah, kita anggap saja berbakti. Jarang-jarang bisa ketemu juga.

Jadi...setelah dari sana, saya sudah harus balik lagi ke kampus UGM untuk tahap beasiswa selanjutnya, yaitu wawancara. Saya kesana harus menumpang kereta karena pesawat mahal (nassami..!). Pagi-pagi buta saya sudah harus digenggo (baca: dibangunkan dengan cara dikasi goyang-goyang keras sekali pokoknya) oleh nenek saya yang lain (jadi itu rumahnya nenekku isinya nenek-nenek semua ji.. ahahahahaa...) yang bernama Nenek Raba' (amis yuu Nanna), setelah hasil pergenggoan membuat saya terbangun, saya pun beranjak mandi, karena kereta berangkat jam 7 pagi dan sejarah macet Jakarta mewajibkan manusianya untuk menjadi manusia dini hari.

Mandilah saya dibawah guyuran air dari gayung (baca : timba kalo kalian orang bugis makassar), tidak sejuk, bahkan hangat,  tapi itu bukan karena air keran yang bisa diatur dari dingin ke hangat atau perpaduan dari keduanya, melainkan karena sumuknya (baca : gerah) udara di Jakarta, membuat suasana menjadi sangat kering dan panas. Tidak terbayang jika menjadi kaum miskin di Jakarta, tidak punya rumah beratap genteng dan kamar berfasilitas AC dengan kusen besi ala Eropa yang bisa sedikit meredam panas kota. Pokoknya selama berada di Jakarta saya sama sekali tidak merasa segar. Seperti sayur kangkungnya Daeng penjual sayur yang sering keliling kompleks rumah di Maros, kalau mauki beli sayur terus jam 10 siang mi, aiiihh...layu mami sayurka (hahahaha..).


Saya sangat ingin lulus S2 di UGM bukan cuma karena itu adalah universitas mentereng, tetapi juga mengingat telah banyaknya biaya yang harus dikeluarkan demi mobilisasi UJP-JOGJA ini. Kata orang katanya supaya saya bisa balik lagi ke suatu tempat yang saya inginkan sekali lagi, maka saya harus meninggalkan suatu barang di tempat itu dan katanya kalau mau lebih manjur maka baiknya meninggalkan barang yang dianggap berharga. Oleh karena itu...tanpa berpikir panjang lagi saya sengaja meninggalkan barang yang saya anggap "berharga" dan bahkan "krusial" ini saat selesai mandi, yaitu....eheem...anu...itue... (janganki ketawa nah!! ) kutinggalkanki celana dalamku di tempat sabunna nenekku (maygaaaaaatttt...).
Trust me, its true. Semoga dengan saya tinggalkan itu kancut, saya akan kembali ke java island ini, dapat undian berhadiah mungkin?? Atau dapat orang jawa?? Yah.. tapi doa saya yang pasti semoga saya kembali lagi ke jawa karena lulus beasiswa di UGM. Dan semoga nenek saya tidak membuang celana dengan motif garis-garis tersebut ke tempat sampah karena mengira itu milik kolor ijo (aamiin...).


Singkat cerita (tsaaaah...), nenek Raba' menyiapkan bekal buat saya di kereta, karena beliau tahu saya tidak sembarangan makan di jalan, beliau memanaskan ayam goreng semalam (yang tidak habis), membuatkan sayur tumis, dan membungkuskan semua buah anggur yang sebenarnya oleh-oleh saya bawa buat mereka (kenapa na saya ji lagi na kasih??? adadadadaa...nenek-neneka belah na sayangta mamooh..).


Saya di antar hingga petugas kereta api melarang nenek saya untuk menemani sampai ke dalam gerbong. Saya pun berusaha untuk memberi ketenenangan pada nenek bahwa saya akan baik-baik saja sendirian. She goes on by staring me sadly... :( Bye....bye Nannaaa..we will meet soon.


Jadi saya mulai mencari gerbong sesuai dengan nomor di tiket kereta. Bertanya pada petugas dan akhirnya menghempaskan bokong pada jok kereta yang.... keras (nassami, janganki berharap terlalu banyak di kelas ekonomi). Tapi lumayan nyamanlah untuk ukuran level ekonomi,perusahaan kereta api sepertinya lebih memperhatikan kebersihan dibanding dulu, tidak adami lagi yang bakal tidur di lantai, tidak adami lantai kotor dan toilet bau karena sudah ada petugas reguler yang membersihkan pada waktu-waktu tertentu.

Saya selalu berharap jika ada kursi sebelah saya kosong jika di tempat manapun, mau itu di pete-pete, bioskop, pesawat dan sekarang kereta api itu pemiliknya adalah lelaki gagah, mapan, masih single, dan mau sama saya ( itueeeh..kayak di FTV toh). Tapi sudah beberapa stasiun terlewati dan hanya kursi di sebelah saya yang belum terisi oleh penumpang (ide'eeh malas ta'). Padahal Jogja sudah semakin dekat.

Sudah cukup siang, perut sudah keroncongan, saya pun berdiri untuk mengambil tas di rak yang berada di atas kursi kereta untuk mengambil bekal. Pas saya angkat tangan untuk ambil itu tas, kenapa saya rasa ada tercium bau kacci?? Atau biasa lebih dikenal di kalangan awam itu dengan mase'bung (awwee....). Saya pun merasa herman (maksud saya heranG, eh bukan yang benar itu heran). Kenapa bisa tercium bau tidak sedap itu sementara hanya saya yang berada di kursi kereta ini. Akhirnya pas saya cek saya punya ketiak (posisi angkat bahu sambil kepala miring ke arah ketiak) ketahuanlah asal dari bau-bauan mase'bung itu. Ketiakku pale' yang mase'bung la'deeeee'..... (adedededeeeehhh....). Saya pun berusaha merunut latar belakang masalah dari kasus ini dan mendapati kalau saya memang lupa memakai mejik stone saat terburu-buru berangkat tadi pagi. Yang akhirnya membuat bakteri di ketiak membuat bau yang tidak enak dicium.

Tidak jadi ambil bekal sayapun langsung duduk lagi ( malu-malu sendiri ka'). Bagaimana kalau tetangga kursi mencium baunya? Apalagi tawwa lagi makan siangki juga, nanti bilangki   "iihhhh...cantik-cantik se'bung" ataukah malah bilangki  " hiih....sudah nda canti', jerawatanG, se'bung lagiii...." Jadi lebih baik saya duduk saja dulu.

Saya sempat tertidur pasrah dengan ketiak se'bung ini, dan terus berdoa semoga benar-benar tidak adaji penumpang yang bakal isi kursi di sebelahku, atau biarmilah om-om tua yang isi ini kursi, jangan cowok gagah. Bagaimana mau kenalan coba? Kalo kondisi sedang kacci total begini, apalagi kelas ekonomi kereat api tidak ada AC nya, adaji kipas angin tapi tidak na rapi' jaki' (*baca : tidak dijangkau) anginnya. Pokoknya itu ketiak tidak saya gerak-gerakkan supaya aromanya tidak menyebar.

Kereta berhenti di stasiun (nda tau apa namanya). Saya melihat ke jendela dengan pemandangan yang sama, penjual yang sedang menjajakan dagangannya dengan gigih (deh susahna cari uang kodong...). Tiba-tiba dari samping ada suara " mba...bisa geser sedikit enggak..."
OH MAY GATTT!!!!
Suara baligh!!!
Eh maksud saya suara cowok!!!

Saya pun memutar leher dan sok-sok melihat ala-ala sinetron ( yang ituee...naliatki dulu dari ujung sandal swallownya baru ke bagian atas wajahnya secara pelan-pelan).

Pas sampai ke arah muka nya ..entah saya mau senang atau sedih ini. Senang karena ini cowok cakep mirip Ramon Y Tungka ( tojenga' biar body nya juga mirip yang ca'di kune' begituee), pake gelang-gelang  ala pecinta alam, terus pake carrier terus pake sandal EIGER!!!
Tapi sedihka juga.. karena lagi mase'bung sekali ketiakku kasihaaan (ya tuhaaaaaanG kenapa na begini kamma nasibku).

Akhirnya ku geser badanku supaya bisaki juga duduk, pokoknya saya berusaha sebisa mungkin supaya tidak keluarki aroma kacci na ketiakku. Itu cowok murah senyumnya lagi kodong...na tawarika' makan roti tapi ku tolakki karena sedikit ji... eh bukan maksudku karena takutka kasih bergerakki tanganku. Senyumja bilang " makasiiiihhh....".

Kusibukkan diriku dengan hape dan earphone, tidak bisa juga update status karena habismi pulsaku, jadi piti-piti ja buka-buka lagi bbm terus tutupki lagi terus buka ki lagi.Terus pura-pura tidur yang akhirnya bikinka tidur betulan. Intinya tidak bisa pedekate ini, padahal takkala adami cowok gagah yang selama ini ku angan-angankan seperti di FTV. Pokoknya gagal total gara-gara kacci total.

Sepertinya hampir dua jam saya tertidur sampai akhirnya sampai stasiun di dekat malioboro.
Itu cowok pas saya buka mata langsungki senyum (ommaleeee' manis na). Saya juga berusaha balas dengan senyum manis, mudah-mudahan manis betulan ji, bukan kayak orang yang sedang tahan boker. Karena ini ketiak makin merajalela se'bungnya na pakamma panas. Padahal pegal sekali bahu ini tidak bergerak-gerak demi menjaga harga diri (hahahhaa...).

Sebenarnya saya mau sekali berbincang-bincang ringan dengan pria tersebut (tsaaaahhh....). Tapi tak dinyana apa daya ketiak sedang tidak mendukung. Say hello and then give number kek....ato tanya tinggal dimana kaah... kato pura-pura menjatuhkan tissue begitue...(halaaaaah...). Bukannya romantis malah aseeem.

Parahnya lagi...tas ku ada di atas rak kursi penumpang. Yang mana jika saya hendak mengambilnya maka saya harus mengangkat tangan setinggi-tingginya demi menjangkau tas berat tersebut. Sementara penumpang lain sudah pada siap-siap turun kereta, saya masih saja diam mencari ide bagaimana caranya supaya saya tidak malu-malu, karena kayaknya ini cowok belum turun di stasiun sini melihat gayanya yang masih anteng saja duduk. Oh may gat....saya harus bagaimana ini. Masa dia juga harus kebagian asem ketiak saya, padahal kan dia cakep (nyambung kemanaaaa...coba). Hadeuuhh...pokoknya saya tidak mau harga diri ke-cool-an saya selama di perjalanan ini jatuh karena ke-se'bung-an ketiak saya (tidaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!).
Tapi sebentar lagi kereta bakal lanjut jalan ke lempuyangan. Saya tidak mau juga diturunkan di antah berantah karena ga punya tiket kesana. Ck!!! Ahhh...biarmi deh!! Tidak kenal juga kok, kalopun nanti bau ketiakku sampai ke hidung doi,semoga langsungki pingsan terus lupa ingatan jadi tidak dia ingat lagi siapa saya. Masalahnya kalo saya angkat tangan pas banget kepalanya langsung baku lurus sama posisi ketiak basah dan asem milikku iniiiihhhhh...

Aaaahhh!!! Wateper daaah....
Saya bangkit berdiri dan dengan segala tenaga ku kerahkan kemampuanku untuk meraih tas. Bismillaaah...

Eeaaaaa...!!! Itu aroma langsung kayak terbebas dari belenggu, langsung menyebar ke segala arah dibantu oleh kipas angin yang ada di dekat situ. Mana lagi itu tas susah sekali diambil, jadi haruska' lebih lama angkat tangan sambil menjangkau-jangkau, yang mana itu cowok akan makin sadar kalo saya se'bung totaaal. Okkeeh, perfect!!!!

Saya kira ini cowok berdiri untuk ambil masker buat tutupki hidungnya na pakamma kacci ku. Ternyata .... dia malah bantuka' ambil tas ku sambil bilang, "sini saya ambilkan...".
Iiiihhhh...gaaaank romantis naaaa. Senang sekali rasanya, mau sekali ma senyum senang tapi ku tahan, jadi hidungku ji yang kembang kempis kayak banteng yang mau menyerang. Pokoknya haruska tetap terlihat cool walaupun saya se'bung. Siapa tau saja dia mau bantu ambilkan tas bukan karena kasihan melihat gadis manis nan canti macam saya kesusahan, tapi karena tidak tahanmi na cium bau ketiakku yang menyebar ke seluruh arah (hahahaa...).

Ya sudahlaaah...setidaknya saya ketemu cowok cakep ala FTV walaupun tidak mengeluarkan segala teknik untuk kenalan. Setelah mengucap terima kasih, sayapun keluar dari kereta dan berjalan mencari bus untuk ke kampus UGM.

Well well....thank you my trip.
Hahaha...














Drama Queen #1

Im a drama queen...
Bukan karena saya suka sekali nonton film. Bukan karena saya perempuan yang khas dengan perasaan yang berlebih-lebihan. Tapi mungkin memang hormon (enda tauk hormon apa yang membentuk kepribadian seseorang) yang membuat saya selalu lebih sedikit emosional dari orang-orang sekitar (bahkan dalam keluarga).

Sedih akan sedih sekali. Marah akan marah sekali. Tapi enda tauk kenapa kalo bahagia saya selalu ji bisa kontrol ki supaya enda terlalu keliatan. Yaah..tapi begitu mi. Keliatanki di berat badan kalo saya bahagia (tambah berat ki tawwa bobot tubuh). Hahahaa...

Yah back to base. Jadi saya ini seorang ratu drama. Selalu saja hal-hal yang biasa akan di imajinasikan berlebihan. Jadi tahun lalu...saya bertaruh nyawa (tidak ji juga na begitu sekali) untuk mengadu nasib ke Jogja. Mencoba mencari suaka untuk diperkenankan diterima sekolah di sana (hahaha...). Dan pada suatu waktu, ceritanya saya sudah selesai ikut tes dan segala tetek bengek administratif, tinggal menunggu tanggal wawancara saja. Saya berangkat dari Lempuyangan untuk buang-buang waktu ke Jakarta (ada nenekku tinggal di sana). Dengan lelah fisik, batin, dan wajah yang sedang bersahabat dengan jerawat, saya berangkat ke sana. 

Di sana, nenek saya tinggal di dekat kali. Bukan macam kalian semua, yang berlibur ke luar sulawesi bakal ketemu dengan keluarga kaya yang berhasil dengan segala harta benda yang gemah ripah loh jinawi. Ternyata oh ternyataa.....saya harus turut membantunya berjualan. Nenek saya punya sebuah rumah, dan beliau membuat kos-kosan di rumah itu, jadi itu rumah di petak delapan ruangan sempit, empat di atas, empat di lantai bawah. Asli sumpek. Jadi itu nenek saya yang sudah tidak kebagian kamar di rumahnya sendiri (et daaah....pemilik yang tergusur oleh kebijakannya sendiri hahaha) akhirnya membangun semacam kios di depan rumahnya, pas di pinggir kali, and VOILAAAA beliau hidup di situ.

Nenek saya hidup sendiri di situ. Tidak mau numpang sama anak-anaknya. Di kios nan sempit dan kumuh. Tiap kali nenek ke pengajian akhirnya saya yang harus jaga itu kios, padahal saya tidak tahu bemana caranya jual-jualan (saya kira tommi bakal di layani ka' macam princess karena saya cucu yang jarang-jarang datang). Tapi biarlah..anggap saja baktiku pada nenek.
Sebelum pergi, nenek mewanti-wanti supaya saya ingat semua harga dan nama produk yang beliau jual.

"Lia, ingat kalo es manis itu 500 rupiah, kalo kerupuk 1000 tiga, kalo ini bla bla bla blaaa......"

Akhirnya saya manggut-manggut ji sok mengerti, padahal dalam otak enda bisa mi saya ulang satu-satu itu harga. Pergilah nenek saya. Dan sayang nge_jogrog di depan pintu kios seperti orang dongok. Orang-orang lalu lalang seperti di gang Potlot, bahasa na lagi sama. Sampe akhirnya ada anak kecil datang, macam Mancung anak kecil di sinetron.

"Beli es susu' dong!"

Mate mijah!! Yang mana di bilang es susu ineh, pake Apostrof ki lagi.

"errr....emmm....es apa?"

Entah logat apami tadi saya sebut, mau di bilang logat Makassar nanti bingungki ini anak bocah, mau ki coba logat Jakarta malu-malu ja kurasa dengarki sendiri.

"Ituuuh es susu' yang di kulkas noh!"

Hamma'daaang....ketus na cak! Untung di wilayah nya ki begitu. Coba di Maros ki iyya.
Akhirnya ku ambilkan es di kulkas. Oh iya tawwaah...ada dua macam es, ada es teh dengan es susu coklat kental manis. Na ambil mi baru na bayar pake uang logam 500 (masih laku sekali uang begitu di Jakarta).

Terus saya pun istirahat-istirahat. Ngemil snack yang ada tulisan halalnya. Berharap ada kayak di FTV di tivi, ada begitu cowok gagah datang mau belanja tapi dia liat saya, trus bertanya "eh kamu cucu nya bu aji yaah??cantiknyaa..."

Masih berkhayal sambil ngemil, tiba-tiba ada suara.....cowok!! Oh may gat!!! Apakah ini mimpi??? Ya Tuhaaan....

Saya segera perbaiki jilbab terus berbalik dengan manis.


Dan......ta'bangka (baca : Kaget).

Yang ada di hadapanku sekarang, memang cowok sih...tapi (addeeeeeh...) sangar sekali mukanya. Kayak preman di FTV. Bukan kayak cowok gagah. Dia cuma pakai kaos dalam sama kolor tulisan MU. Mengisap ingus kayak habis nge_lem (menger jaki toh). Terus bertanya.

"Bu aji kemaneh?!"

"emm...ke pengajian...", saya jawab dengan logat Jakarta ( malu-malu ku ja dengarki)

"oohh gituh! ini gue bayar utang gue yang minggu lalu ye, nih ceng go, berarti masih ada kembaliannya gopek kan? kasih gue es teh aja deh..."

Sumpah ka' saya tidak mengerti apa dia bilang, logat Jakarta ki memang tapi bukan yang kayak di sinetron-sinetron ala gedongan, tapi betawi pinggiran ka ini belaah...
Dengan masih tidak mengerti saya ambilkan dia es teh sebelum mengamuk.
Dengan muka dongok bin tidak menger saya kasih dia es teh.

"makasih yee...ntar kasi tau bu aji kalo gue udah bayar utang ye"

Ceh!! Senyumki tawwah. Mungkin kasian lihat muka dongok ku.

Ada mungkin sekitar satu jam saya jagain kios. Dengan segala bentuk pembeli yang harus melayani dirinya sendiri karena saya yang tidak tahu apa-apa. Lalu nenek datang dan saya pun solat ashar. Pas saya solat, saya dengar itu cowok yang tadi bayar utang datang lagi belanja dan bicara sama nenek.

Saya sih berusaha khusyuk sama solatku, tapi namanya tempatnya dekat-dekatan, jadi biar kita di dalam rumah tapi itu orang yang bicara atau lalu lalang di luar kayak ada di depan ta.

"eh bu aji, beli djisamsoe dong"
"eh udah bayar utang yang dulu belon lu?" Nenek menjawab
"udah kok tadi"
"bayar ame siape?" Nenek yang sudah puluhan tahun di Jakarta pun fasih logatnya
"udah kok suer, tadi ame cewek yang tadi jaga kios.."
"siape?" Nenek masih menginterogasi

Awwe..jadi enda khusyuk saya solat. Kepikiran mau bilang sama saya. Tapi penasaran juga dengar jawabannya itu cowok tentang saya. Bagaimana kira-kira caranya mendeskripsikan begiteeeh...(siapa tauk toohh..hehehe).

"emm...entu loh bu aji..yang cewek tadi nge jagain kios, engga tauk sape namanye...tapi ituloh...maaf ni bu aji...yang...maaf ni ye bu aji...yang wajahnya jerawataan..."

Kamfreeeeet.....!

Astagfirullooooh.....
Saking kaget dan emosinya dengar itu cowok mendeskripsikan sosok diriku iniiih!! Akhirnya saya batalkan solat dan pergi wudhu ulang terus ulang juga solat.
Kukira tommi...mau bilang apakaah...manis begitu atau apalaah...
Hfffttthhh.....dosa ma ini sama Allah karena solat terus lain pikiranku.

Pas habis dari ambil wudhu, saya melirik ke cermin. Para jerawat langsung say hai semua.
Ternyata mereka (baca : jerawat). Terlalu mendominasi wajahku sehingga tidak keliatan inner beauty ku (mungkin).

Aaaahhh...whateverlah.
Begini mi mungkin kalau sembarang di bayangkan.

Warning Drama Queen

My Way In Mangkoso #6

Tidak di sangka ternyata banyak senior alumni Mangkoso di Maros ini.... bahkan sudah pada jadi orang-orang hebat. Deep inside.. saya juga ikut bangga (semoga ku dapat ji juga barakka'na Mangkoso). 

Hari ini adalah Kamis dini hari... yang artinya (dulu) kalau di Mangkoso itu besoknya adalah hari Jumat, yang artinya hari libur, kalau dulu lagunya Si Katy Perry sudah ada pasti langsung booming yang judulnya Its friday Night...hahahahaa....

Tidak ada yang bisa tahu bagaimana besarnya rasa bahagia anak-anak macam kami yang terkungkung dalam suatu sistem pesantren ini jika masa libur tiba, sehari pun tidak mengapa, karena kita macam masih hidup di era Soeharto saja rasanya, hahahahahaa!!! Semua apa-apa serba di atur, tidak boleh ini, tidak boleh itu, tapi bukan manusia namanya kalau tidak kreatif...apalagi kita ini (masa itu) adalah anak-anak yang sedang memasuki masa pubertas (omaygaaat) biar tembok cina pun akan di terjang demi menjawab semua gejolak muda yang ada (tsaaaahhhh.....).

Jadi...tiap malam jumat (yang bagi sebagian awam di anggap menyeramkan) itu jadi seperti malam minggu buat kami. Di hari itu....kita bisa nonton TV di kamar pembina... kita bisa begadang karena besok tidak ada hafalan.....dan yang paling seru dan ditunggu-tunggu itu adalah.........*durudurururduuuuuuuuuuuuuuuuuummmm!!!!*   BESOK ITU HARI PASAAAAAR!!!!!! 


Biasa saja ya??? Yaaa memang bagi kalian....(hiks...).Tapi bagi kita yang hidup dalam penjara suci (julukan pesantren), hari pasar di hari Jumat itu surga......macam kalian yang bahagia saat nge-Mall. Karena di hari itu kita bisa minta ijin keluar asrama. Karena di hari itu kita bisa benar-benar melihat dunia luaaaaaaaaaar.....(jadi kalau keluar pagar asrama menuju jalan raya itu bisa kau bayangkan macam zombie-zombie yang haus daraaaah...hahahaha). Gembiranya setengah mati tuhaaaaaan...

Di pagi hari sepulang dari masjid solat subuh itu, kita-kita sudah bikin mi rencana untuk keluar minta ijin. Dan kita sudah saling menyiapkan segala macam alasan untuk di jadikan alibi. Adalah yang bilang alasannya karena mau beli (maaf) celana dalam.....adami yang bilang mau beli ikat rambut....adami juga yang katanya habis persediaan sayur sama ikannya..(awweee.....macam-macam...assala bisa keluar). Walaupun nantinya, kita cuma jalan-jalan cuci mata saja...liat-liat ikan...liat-liat sayur sama tomat.

Tapi yang paling penting itu, yang jadi inti kenapa pasar itu sebegitu menariknya, adalah karena pasar Mangkoso di hari jumat itu bukan sekedar pasar sodara-sodaraaaaa....seperti yang saya bilang tadi....kami-kami ini sedang masa pubertas....dimana tarik menarik magnet antara lawan jenis itu sangatlah kuat. Jadi....pasar Mangkoso pun di jadikan sebagai spot kopi darat pertemuan antara santri putra.....dan santri putri....(eeaaaa.....hahahahhaaa). Diletakkan sejauh apapun itu, di pisahkan sejauh apapun itu....(saya akui), jiwa muda selalu punya akal untuk (bisa) baku dapat. Ada saja jalannya (saya saja herman..eh maksudku heraaaan...). Padahal itu kampus putra letaknya di atas gunung yang jauh lho....untuk kesana harus naik motor atau mobil. Tapi kok ya masih bisa baku kenal satu sama lain ya? Baku tukar sama balas-balas surat (asli masih pake surat...yang di tulis tangan....yang kertasnya ada gambar-gambar lebay nya ....yang ada di jual itu kertas surat plus amplopnya baru harum kayak kertas undangan...hahahaha). Dan pasar lah yang jadi saksi ramai transaksi tersebut.


Di antara kami khususnya kamar saya di A12 (yang selalu...dan pasti...entah kenapa....bukan  saya) ada yang menjadi semacam queen bee (si ratu lebah yang populeeer). Banyak sekali anak Tonrong (Tonronge itu....adalah kampung tempat asrama putra berada) yang suka ki....jadi semacam nama paten mi yang harus na tauk anak Tonrong. Tanya saja bilang siapa santri Mangkoso dia tauk...dan tersebutlah nama-nama itu. Harapanku itu ada juga nama ku di sebut, tapi yaaaah....sayang sekali gagal sodara-sodara (hahahahaha...). Nah si queen bee ini pasti rajin sekali minta ijin keluar kalau hari jumat, biasanya...kami yang malas keluar (karena tidak ada tonji odo'-odo'ta) cuma nitip saja. Andalan na anak-anaka dulu ituu......ES CINTAAA....(asik eee...)  es cinta itu benar-benar es cindolo..na tape, sederhana memang tapi dia jadi langganan kami, pertama, karena itu es cinta adalah es terenak....kedua, karena  itu tonji bisa di beli ka murah ki....ketiga......(na bilang dulu Nanang kenapa harus di beli es nya) karena bindo ki mata na pabaluk na (ahahahaaa.....tidak nyambung ka?!). Kata Nanang temanku haruski beramal (beng...), karena kasihanki Bindo ki mata na baru menjualki es cinta....(awweeee...andileeee'). Gara-gara alasan itu tiap kali giliran saya keluar pasar untuk beli es cinta saya jadi selalu mau ketawa (menger maki' toh....ka lucu ki matanya itu penjualka). Apa yang salah dengan bindo' lalu di kasihani??!! Tapi memang...kami anak santri selalu penuh welas asih.......(cieeeeehhhh....).

Salah satu andalan kami yang lain itu....adalah stand nya penjual buku dan majalah. Kami ini tidak mendapat informasi dengan laik. Karena keterbatasan fasilitas sekolah...juga karena fasilitas pribadi kami di batasi. Tapi kami selalu berusaha untuk cari tahu, dan selalu mau tahu...walau kami anak pesantren...tapi kami tahu artis-artis yang lagi hot....dulu saya suka sama Backstreet Boys....Westlife....Avril....dan Blue (saya kejar kasetnya sampai di Pare-Pare). Tapi ada juga itu yang idolakan Akademi Fantasi sama film nya AMIGOS EX SIEMPRE....(ommaLeeee'). Jadi kalau ke pasar, saya dan teman-teman pasti pergi menilik majalah-majalah baru....tapi sebenarnya tidak bisa juga di bilang baru karena itu majalah keluaran lama...yang kalau di kota itu sudah terbit sejak satu bulan yang lalu, tapi baru sampai di kita, itu ujung majalah yang ada tanggal terbitnya sudah di gunting sama penjualnya (jadi kalau kau tau barang cakar atau second, kami disini tau majalah second)...yang sebenarnya itu majalah...dia bilang di covernya berhadiah poster...ato berhadiah TShirt...tapi karena (anu) lama, jadi tidak adami itu hadiahnya...

Pernah itu saya berkelahi sama sepupunya Rahbiah (temanku) karena tidak mau ka na kasi gunting gambarnya Orlando Bloom di artikel majalahnya...pernah juga menangis Rahmatiah karena itu mukanya Very AFI terpotong ki separuh (yaah...karena itu tadi...penjualnya na guntingki tanggal terbit aslinya itu tabloid). hahahahaha.....macam-macamlah...

Selain itu....kami paling suka kalau hari jumat adalaaah.....hari makanan!!!
Banyak sekali penjual makanan di pasar...mulai dari Lappo' rasa strawberry (katanya....padahal warnanya ji yang warna merah) sampai ke tukang bakso (eh?!!! biasanya ji di'). Itu sudah sangat RUAAAAAAR BIASAAAAA!!!! Disitulah hari kami bisa makan daging sebanyak-banyaknya. Maklum saja kalau di catering itu makan daging ayam seukuran jempol orang dewasa saja, cuma bisa satu kali satu bulan (itu lagi punna upa'.....). Teman-teman yang banyak duit kirimannya pasti belanja banyak...dan saya (pasti mi...) cuma bermodalkan piring kosong lalu pergi minta (ta'sedikit-sedikit na...jadi banyak), akhirnya ikut kenyang juga. Apalagi si Ririn yang bapaknya punya banyak kolega sesama jawa yang jual bakso dan mie pangsit....beuhh....tiap jumat pasti selalu dapat kiriman satu bungkus (porsi banyak) bakso...ato pangsit. Makanya...tiap mau mi hari jumat, pasti ku baeki Ririn....ku angkatkan mi air wudhu....ku ambilkan jemuran keringnya.....(hahahahaa....modus!!!).

Tapi selain hari pasar, karena hari Jumat itu hari libur, saya dan teman-teman yang bosan ke pasar itu....biasanya bikin planning untuk LICCI' (baca : pergi diam-diam....tidak bilang-bilang...atau bohong-bohongi pembina) untuk ke Barru....tapi karena susah untuk dapat izin ke Barru makanya kami Licci'....tiap jam 2 siang pasti piket penjaga gerbang tutup...nah...diam-diam maki' itu keluar....baku kode-kode...baku liat-liat apakah aman mi keadaan buat lari keluar gerbang....kalo sudah OKE, kita langsung lari kabur ke belakang asrama yang merupakan kampung penduduk, cari lokasi ambil pete-pete terjauh.....naik ...... lalu tunduk terus.....dan terus...sampai tidak terlihat mi tiang menara mesjid Mangkoso....(hahahahaa..). Dan (buat anak-anak Mangkoso pasti tau niiihh....) tempat andalannya buat belanja kalo di pasar terminal Barru ituuu....adalah TOKO DALLAH (ahahahahaaha.....!!!), Dallah itu dulu bagi kita macam supermarket besar, kita semacam keren sekali kalau belanja disitu....padahal kalau sekarang itu dia ukurannya cuma seperti Alfa Mart depan rumahku ji, ckckckckck!!!! Jadul sekali memang....

Tapi itu kenyataan yang (dulu) saya anggap pahit...tapi ternyata sebegitu merindukan sekali sekarang...hope u enjoy it...:)

MY WAY IN MANGKOSO
Foto Jadul Waktu Masih Idadiyah...:D

BLOODY COPPENG!!!


BLOODY COPPENG

Waktu kecil saya tinggal di desa, tepatnya di Minasate'ne, Pangkep. Dan buat lebih kerennya, Minasate'ne di singkat jadi Misten. Kitaaa...orang Misten cuuy.... ;)

Namanya hidup di desa, fasilitas umum yang ada tidak sebagus kota dong. Jadi kami anak desa ini harus bisa lebih kreatif buat memuaskan desire kekanakan kami.

Sungai dan kali di bayangkan kolam renang. Rumput yang basah di jadikan alat buat main ala skaters. 

Masih saya ingat dengan jelas bagaimana saya harus berbohong pada mamak dan bapak dengan alasan belajar kelompok, padahal saya cuma tergiur sama ajakan teman yang pohon Coppeng nya sedang berbuah banyak, dengan mata yang bersinar-sinar di waktu istirahat siang sekolah (itu hari) si Irma menjawil keras (betul-betul keras sampe kurasa di tulang sumsum belakang ku) pinggang saya,

"weh Lia!! moko pigi rumahku sebentar nah!!"

"aaih...nda bolehka sama mamakku pigi-pigi kalo pulang sekolah belaah..."

"iihh..jammako padeng...padahal banyak na buah na pohon coppeng ku gang!..mau ki juga Tia' sama Bo'di pigi juga.."
 

Entah apa nama asli dari pohon coppeng ini, sudah sejak dahulu kala saya mencari nama (yang lebih bagus di sebut) dari pohon buah ini. Ciri-ciri buahnya itu besar seukuran jempol orang dewasa, jika matang warnanya berwarna ungu tua (sebenarnya) tapi karena saking tua nya warna ungu itu maka jika di lihat sepintas buah itu terlihat berwarna hitam. Rasanya manis dan sedikit agak sepat. Jadi biasa jika ingin di makan harus di goccang (baca : di kocok) dengan gula pasir. Wudiihhh..nge bayangin nya saja saya sudah menelan liur (hahahaha...). Itulah Coppeng (buat yang tahu nama ilmiahnya....kasi tau ka nah!!).

Jadi dengan segala bayangan nikmatnya itu buah coppeng, saya dengan segenap air liur yang tiba-tiba membuncah akhirnya berputar otak untuk mencari cara terbaik supaya bisa keluar rumah di siang sepulang sekolah. Jangankan untuk mendapatkan ijin, untuk meminta ijin dari bapak saja saya sudah sangat takut. Kami bersaudara sangat sulit untuk keluar rumah dengan alasan hanya untuk bermain-main saja. Paling banter kami hanya boleh main di sekitaran rumah saja. Yang kalau magrib sudah hampir tiba dan kami belum pulang itu, kami akan segera melihat bapak ada di ujung jalan berdiri sambil teriakkan nama kami satu-satu....menolehlah kami....dan di lihatlah bapak yang acungkan tangan ke atas....tanpa sepatah kata lain...tapi tatapan matanya bak malaikat yang mau meniup sangkakala. Kalau sudah begitu, badan dan jantung kami berdegup berirama dengan kompak, nafas sesak, dan keringat bagai biji jagung berjatuhan...

"waaahhh....bakal dapat gebuk lagi ini...."

Dan di akhir cerita kami bertiga akan sedang di olesi minyak gosok oleh mamak di bagian tubuh yang terkena pukul cambuk kayu bapak sambil masih sesenggukan yang harus di tahan setengah mati, karena kalau masih terdengar bapak (awweeee....) akan sangat bahaya. 

"..kenapa itu!! kenapa masih ada suara menangis bapak dengar!! masih mau bapak pukul iya!!"

Brrrr....ampung bapaaaak.

Hehehe... itulah bapak yang mengajarkan disiplin tidak tanggung-tanggung.

Jadi waktu itu saya benar-benar tergiur oleh coppeng teman saya. Pulang sekolah saya cuma bilang sama Irma si empunya pohon untuk mengajak Tia' dan Bo'di datang menjemput saya ke rumah dengan membawa buku pelajaran, sehingga saya bisa berspekulasi bahwa mau belajar kelompok.

Pulanglah saya ke rumah, cepat-cepat ganti baju, makan dan cuci piring (biar baeki perasaan na mamak sama bapak). Tidak berselang lama datanglah trio yang bakal menjalankan misi "bohongi bapak dan mamakku". 


"Samlikuuuuuuummm....Liaaaa.....!!!" ujar mereka kompak.

Saya cuma mengintip dari balik jendela kamar, wuidiihh...mereka benar-benar total dalam menjalankan misi. Irma yang tidak pernah pakai rok jika pulang sekolah, terlihat "berusaha" manis dengan memakai rok coklat tua nya (yang baru saya sadar nantinya kalo itu ternyata rok seragam pramuka ..ckckckck....), Tia' yang jangkung nan kurus itu sedang memperbaiki jepitan rambut  (hadiah karoppo')  kupu-kupu nya berkali-kali, sementara Bo'di yang paling pendek bahkan memakai sepatu lebarannya sekalian dengan kaos kaki nya yang lubang di tumit (na pakamma cidu' sekali tumitnya).

Keluarlah mamak saya menyambut mereka. Mamak saya juga merupakan guru di sekolah kami, jadi mereka melihat mamak saya dengan manggut-manggut dan senggol menyenggol menjadi satu. Baku dorong-dorong satu sama lain dan baru selesai setelah ada satu yang (mau mi..) nangis ( di pakamma senggol terlalu keras na Irma).

"Kenapa nak??...", tanya mamak saya

........................... belum ada yang bersuara.

"Cari Lia ya??", mamak saya kembali bertanya.

............................masih belum ada suara. Hanya anggukan ketakutan saja yang ada.

"oohh...ya sudah masuk sini, Liaaa....... ada teman mu nih.."

Saya yang sudah tahu kedatangan mereka langsung lompat keluar. Mamak pun masuk kembali ke dalam rumah. Saat saya menemui ketiga partner trio saya, mereka kembali baku dorong-dorong.

"awasko kau Irma nah!....keras nu gank senggol ki, sampe ta mau jatuh gank!", si Bo'di mangkel.

"ih..ka nda di sengajaki Bo'diii...ngapamoe kodoong, i Tia' waeng nda mau ki bicara-bicara padahal ada mi Bu Iin keluar!"

"ih!! ka kenapa na saya nu suruh bicara gank! mallak2 memang ma' itu!", si Tia' ikut sewot.

Saya langsung melerai.

"wee..sudami..ayokmi pigi, minta ijinga dulu nah! Bilangko semua nanti kerja kelompok IPA nah! Di suruhki cari jenis-jenis daun, baru di rumah nu ki cari Irma toh!!"

Setelah semua selesai di komando. Akhirnya saya minta ijin ke belakang. Seperti yang sudah saya duga. mamak dan bapak keluar untuk meminta kepastian dari para teman saya yang tiba-tiba langsung pucat pasi ketakutan.

"mauko kerja kelompok di rumahnya siapa?"

"di rumahnya Irma bapak...", ujarku

"yang mana di bilang Irma?"

Irma ngacung tangan sambil telan ludah (kayak mau di tembak senapan saja).

"oohh,,anak na ko sapa?"

Bla...bla...dan blaa....

Setelah segala perijinan nan kompleks dan rumit (na kalah2 negosiasi gencatan senjata). Kami pun (lebih benarnya saya sendiri) langsung di ijinkan dan harus pulang sebelum maghrib. Okkeeeeh......POHON COPPENG HERE WE GOOOOO!!!!

Rumah Irma terasa sangat dekat dan kami tiba dengan sangat cepat.
Sampai di sana kami langsung membuang buku kami di teras depan rumah Irma. Langsung berlarian ke kebun belakang rumah Irma tempat si Pohon Coppeng itu tumbuh. Buahnya dari jauh sudah kelihatan mendominasi jumlah daunnya. Seakan melambai-lambai dari jauh pada kami untuk segera di petik. Seperti zombie yang kehausan darah, itu liur baku telan menelan di dalam mulut (aawweee...cinna dudu maki kodong).

Irma si empunya pohon seperti sudah hafal rute tercepat memanjat tiba-tiba saja sudah di atas pohon. Memakan buah coppeng yang bisa dicapainya dan membuang biji-biji bekasnya ke arah muka kami. Tidak kalah dengan Irma, Bo'di langsung membuka sandal lebarannya beserta kaos kaki bolong nya dan memanjat bagai kera. Si Tia' pun lebih cepat sampai dengan jangkauan kaki dan tangan jangkungnya.

Hanya saya si anak rumah yang tidak jago manjat ini tertinggal di belakang. Menadah (seperti pengemis) buah-buah jatuhan si anak-anak (yang menurut saya) keturunan kera itu (hahahahaha...). Lincah nian mereka memanjat pohon tinggi itu. Karena tidak bawa kantong plastik, saya pun menjadikan kaos Tshirt yang saya pakai untuk menadah buah coppeng yang di jatuhkan oleh mereka. Tapi tidak puas rasanya tidak menikmati buah langsung dari pohonnya. Saya pun berusaha untuk manjat sendiri.

"hati-hati ko nah..banyak itu gumbe' na ini pohonga", si Irma mengingatkan

Jadi Gumbe' itu semacam semut, tapi dia tinggal di pohon, kalau menggigit rasanya sakit sekali. Tapi demi buah coppeng itu saya tidak peduli!!! Coppeng is eveything!!!

Hup!! naik satu kaki...memegang dahan, meraih yang lain. Sampailah saya di atas pohon, nangkring dengan posisi buka kaki nya olahraga Pilates. Raih sana, raih sini, makan coppeng. Sampai saya tidak sengaja tarik buah yang ternyata juga jadi markas besar a.k.a tempat tinggal dan berdomisili nya GUMBE'!!!! Omaygaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!!

Gumbe'-gumbe' itu langsung keluar berlarian, menggerayangi saya yang sedang bertahan memgang ranting. Waahh...bahayaaa....gumbe'-gumbe' itu mulai menggigiti saya yang bergelinjang kesakitan.

"turunkoo!! turunko cepat Lia!! saya pi ambilkanko coppeng!! na gigit terus ko itu gumbeka nah!!"

Belum sempat saya turun baik-baik, ranting yang saya injak langsung patah akibat goyangan saya. 

GUBRAAAKK!!!!!!

Jatuhlah saya di sawah kering di bawah pohon, sambil di ketawai teman-teman yang masih nangkring di atas. Haduuhh....itu bokong remuk redam macam di cambuk bapak seratus kali. Parahnya lagi betis belakang saya luka terkena patahan kayu. CK!!
Tidak apalah...ini namanya pengorbanan. Akhirnya saya cuma bekerja nadahin jatah coppeng yang di jatuhkan teman-teman dari atas pohon, sesekali masuk ke dalam kantong, dan lebih banyak masuk ke dalam mulut saya.

Setelah puas dengan coppeng dan gumbe'nya. Saya sudah harus pulang sebelum di jemput paksa oleh bapak. Tidak lupa mengambil beberapa helai daun untuk jadi alibi di rumah, sebagai bukti. 
Sesampai di rumah, saya nikmatin itu coppeng dengan adik-adik saya secara diam-diam di dalam kamar. Ambil baskom plastik, cuci itu coppeng, kasi gula pasir baru di kocok-kocok supaya taccampurki (baca: tercampur) manisnya dan hilang sepatnya. Habis itu cuci mulut supaya lidah tidak terlalu hitam kena getah coppeng. Pokoknya assipaaaaa'...... :), terbayar semua derita rasanyaaa... ^^

Tapi apa dinyana....luka akibat manjat pohon tidak jua mengering, malah jadi semacam borok yang melepuh. Ck!!! Padahal sudah hari Senin yang harus upacara bendera. Betapa tidak nyamannya saya berdiri pada barisan kelas, panas pula...dan parahnya itu luka saya di kerubungi lalat!!! *muke gileee...*

Awalnya saya tidak mau perduli dan membiarkan itu lalat dan teman-temannya beterbangan di sekitar betis luka saya untuk kemudian hinggap. Bikin gatal sih...tapi tidak peduli sesering mungkin saya menggoyang-goyangkan kaki, itu lalat akan kembali hinggap. Saya sudah capek dan membiarkan saja....sampai akhirnya petaka memalukan itu datang di hidupku yang masih lugu dan manis ini....

Ada yang nyeletuk dari belakang saya, tepatnya di barisan cowok yang bersuara...

"We Lia... Na hinggapi lalat mor-mor nu...itue!" 
*kampreeeeettt*  (menger ji toh apa di bilang mor-mor....)

Dan pas saya memutar kepala demi melihat siapa yang dengan kurang ajarnya nyeletuk, yang menjatuhkan harkat dan martabat diri ini (ketua kelas ka' saya dulu gank!), yang saya liat ternyata.....wakil ketua kelas ku....si Emin....yang rupawan....yang aduh...untuk melawannya saja saya sudah tidak bisa karena kepalang malu....masalahnya (ka ternyataaa....toh...andalangaaaa bicara).

Mana lagi si Emin ketawa-ketiwi yang kayak mengejek sekali. CK!!!

Ini lah!! Gara-gara (na la'ju sikaliaaa) sama Coppeng!!! Bukannya di puji malah ini borok hasil manjat pohon jadi ejekan do'i. Bloody Coppeng!! Susah sekali buat nikmatin itu buah, minta ijin harus bohong...jatuh dari pohon, dan akhirnya borok hasil jatuh itu jadi ejekan gebetan.

Yaaaah....banyak hal di masa lalu yang asli bikin ngakak kalau di ingat-ingat sekarang ini, bukan?!